Keadaan Klub Setelah Perang Dunia
Sesudah Perang Dunia II, pemerintah Sekutu yang menempati larang sejumlah besar organisasi di Jerman, termasuk juga club olahraga serta sepak bola. Hertha dibuat kembali ke akhir 1945 saat SG Gesundbrunnen serta kembali lagi bermain di Oberliga Berlin - Grouppe C. 36 team pada musim pertama pasca-perang Oberliga Berlin dikurangi jadi cuma selusin tahun selanjutnya, serta club mendapatkan sendiri keluar dari sepakbola seksi satu serta bermain di Amateurliga Berlin. Di akhir 1949, mereka mengakui kembali lagi jati diri mereka untuk Hertha BSC serta kembali pada papan atas.
Kemelut di antara Sekutu barat serta Soviet yang menempati beberapa bagian kota, serta Perang Dingin yang bertumbuh, mengakibatkan situasi kalut untuk sepak bola di ibukota. Hertha dilarang bermain menantang team Jerman Timur pada musim 1949-1950 sesudah ambil beberapa pemain serta pelatih yang sudah melarikan diri dari club Dresden SG Friedrichstadt ke Berlin Barat. [7] Beberapa team dari sisi timur kota diminta dari Oberliga Berlin ke DDR-Liga yang baru dibangun, diawali dengan musim 1950-1991.
Lewat tahun 1950-an, kompetisi seru bertumbuh dengan Tennis Borussia Berlin. Proposal untuk merger di antara ke-2 club di tahun 1958 tidak diterima mentah-mentah, dengan cuma tiga dari 266 anggota yang memberikan dukungan.
Jadi team Berlin penting, Hertha mempunyai fans di keseluruhnya Berlin, tapi sesudah pembagian kota, beberapa simpatisan di Berlin Timur berasa susah serta beresiko untuk ikuti team. Saat interviu dengan simpatisan lama Helmut Klopfleisch, dia memvisualisasikan kesulitannya untuk simpatisan di Berlin Timur. Klopfleisch tiba dari area Pankow serta hadiri laga kandang pertama kalinya untuk anak muda di tahun 1954 dia jadi simpatisan instant. [10] Ia terus hadiri laga kandang di stadion, tapi dengan pembangunan Tembok Berlin di tahun 1961, ini jadi tidak mungkin. Meski begitu, ia tidak menyerah. Pada sekarang ini, Hertha bermain di Stadion am Gesundbrunnen, dipanggil Die Plumpe. Stadion ini terdapat cukup dekat sama tembok Berlin hingga suara dari stadion bisa didengar di atas tembok. Dengan begitu, Klopfleisch serta simpatisan yang lain bergabung di belakang tembok untuk dengarkan laga kandang. Saat banyak orang di stadion bersorak, Klopfleisch serta yang lain bersorak. [10] [11] [12] [13] Klopfleisch selanjutnya diduga oleh Stasi, polisi rahasia Jerman Timur. Dia diamankan serta diinterogasi pada banyak peluang. [12] Ia mengambil alih paspornya serta pada akhirnya kehilangan kerjanya untuk tukang listrik.